Proses Berkarya :

August 27, 2007 by ferrydjajaprana

Ferry Djajaprana

Pelukis di Antara Dua Bayangan

 

Semua yang ia uraikan, melalui garis-garis perasaannya. Perpaduan warna mampu mengubah keraguan, untuk selalu memandang pasti. Alamatnya jelas dan tidak lepas. Kemajuannya mampu mengundang daya pandang. Dari sebuah ketajaman yang memperjelas rupa, serta pengalaman ujud terhadap kuatnya jati diri.

 

Diatas kanvas terbaca makna, yang jauh dari praduga dan prasangka. Tidak menjilat kepada kekuasaan, karena mau mengabdi pada hati nurani. Demi mensyukuri nikmat Illahi Robbi.

 

Ferry Djajaprana, merupakan sebuah nama yang selalu menyatu dengan seluruh karya-karyanya. Dari jejak-jejak masa kini, ia mencoba merajut sejarah. Detail demi detail ia ungkapkan berbagai peristiwa melalui kanvas dan kuasnya.

 

Karya lukisan dalam menjamah setiap objek, sangat aspiratif dan apa adanya. Kejeliannya dalam menempatkan setiap warna, selalu selaras dan harmonis. Daerah pesisir, budaya tradisional, peradaban klasik dan suku pedalaman, menjadi pilihannya, untuk diperkenalkan kepada dunia luar yang modern.

 

Berjambat niat, mengikuti kemauan hati, ia keluar dari pintu rumahnya, dan ia kembali tak pernah pasti. Ia juga tak pernah menghitung jarak, dalam menuruti kemauan. Perjalanan panjang dalam mengukir karier, agar menjadikan pengalaman lebih arif dan bijak.

 

Jawa, Madura, Bali Sumatera, kalimantan, serta negara tetangga Malaysia dan Singapura, telah disinggahi. Bahkan sampai ke negara kawasan Teluk. Diantaranya Oman, Qatar, Iran, Saudi Arabia dan Uni Emirat Arab (UAE). Tidak kurang dari 200 buah karya lukisannya, ia garap sejak April 1997 sampai April 2005

 

Dari lukisan-lukisannya, ada yang ia beri judul “Ms Khadik and her Batik”, berukuran 140 x 90 cm, “Fish Market” berukuran 130 x 70 cm, semuanya menggunakan cat minyak. Seluruh karyanya disuguhkan kepada para kolektor dan para pecinta seni.

 

Ferry Djajaprana adalah laki-laki muda yang sedang terbias semangat mengantar bakat. “Saya di Banten ini tidak kesasar, saya sengaja datang, ke mana langkah kaki sampai ke situ tujuannya. Saya mendengar berbagai misteri, cerita tentang Banten. Dari alam lingkungan sampai gerak usik kehidupan masyarakatnya. Saya tertarik ungkapan itu, dan saya perlu membuktikan,” ungkapnya kepada Fajar Banten, sambil terus sibuk di atas kanvasnya.

 

Ternyata itu benar semuanya, saya kagum dan terkesan akan panorama alam banten. Termasuk kehidupan masyarakatnya yang ramah. Budaya dan seninya, serta suku pedalaman yang benar-benar klasik. Saya akan menyediakan waktu lama, buat menjelajahi daerah Anda.” Ungkapnya dalam bincang-bincang dengan Fajar Banten.

 

Itulah mungkin yang menjadi kebiasaan seorang pelukis. Bincang-bincangnya dengan tamu yang baru dikenal, hanya disambil saja. Ia hanya serius kepada kanvas dihadapannya, menghadap ke laut lepas. Memang sekali-kali menoleh, sambil menyolokkan ujung kuas ke warna yang dipilihnya. Kemudian serius kembali.

 

Saat itu yang sedang menjadi sasaran, obyeknya adalah Pantai Tanjung Lesung yang merupakan bagian terakhir dari dari seluruh perjalananya yang hampir sebulan di daerah Banten Selatan. Kendaraan pribadinya yang diparkir penuh kanvas lukisan, yang dipersiapkan buat perekaman objeknya.

 

Diantaranya yang masih berupa sketsa dan ada beberapa lukisan yang sudah jadi. Kehidupan nelayan Muara Cibareno, Panorama Karang Taraje, Pantai Ciara Bagedur, Kesibukan Nelayan Binuangeun dan suku pedalaman yang sedang menenun (Lebak).

 

Sedang yang termasuk Kabupaten Pandeglang, Pantai Tanjung Lesung, Pantai Carita dan Gunung Krakataunya, termasuk hamparan hijau persawahan di kaki Gunung Karang. “Mudah-mudahan dari hasil kerja saya 15 buah lukisan di Banten, membuat saya masih penasaran. Dan saya harus kembali lagi ke Banten untuk menuntaskan,” katanya.

“Bung Ferry, lukisan-lukisan yang anda buat ini, kemudian begitu banyak anda kumpulkan, apa saja themanya?” Fajar Banten mencoba bertanya untuk lebih jauh lagi melihat visi dan misinya.

 

Banyak thema lukisannya yang dibuat diantaranya ada Abstract, Figure, Object, Scene, seascape, Landscape ada juga yang imagination, termasuk daily life. Yang terlihat paling menonjol dari yang ditunjukkan kepada Fajar Banten adalah thema imagination, lukisannya berjudul “The Flying Lady”. Di sini jelas-jelas bung Ferry Djajaprana, daya jangkau imajinasi mampu menjamah kelembutan gerak. Dari setiap inspirasi, untuk dituangkan ke dalam kanvasnya, tanpa memperdulikan dirinya yang setiap detik digerogoti waktu. Bisalah dikatakan bahwa bakat lebih kuat dalam mengantarkan kesuksesannya ke jenjang yang diinginkan (Djoewisno MS/”FB”)

 

-o0o-

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Ferry Djajaprana

Daftar Pameran

Selain Pameran Tunggal di Galeri Palembang, Jakarta , yang dilaksanakan pada tahun 2005, Pameran Bersama yang pernah diikuti sebelumnya diantaranya adalah: :

1) Indonesian Embassy, Abu Dhabi, 1994

  1. World Trade Centre, Jakarta, 1995, Penyelenggara Kedutaan Peru & UNESCO

  2. Mal Mangga Dua, Jakarta, 1996,Penyelenggara Kelompok 100 pelukis Indonesia

  3. Gedung Pusat Niaga, PRJ, Jakarta,1996, Penyelenggara Kelompok 100 Pelukis Indonesia

  4. Mal Daan Mogot, Jakarta, 1997, Penyelenggara Kelompok 100 Pelukis Indonesia

  5. Gedung Departemen Pariwisata Seni dan Budaya, Jakarta, 1998, Penyelenggara

Asosiasi Seniman Pelukis Indonesia (ASPI)

  1. DC Gallery, Jakarta, 1998, Penyelenggara ASPI

  2. Ohlala Café, Mal Pondok Indah, Jakarta, 1998

  3. Ohlala Café, Mal Plaza Indonesia, Jakarta, 1998

  4. Hotel Lembah Hijau, Ciloto, Jawa Barat, 1998

  5. Hotel Carita Beach, Carita, Jawa Barat, 1998

  6. Hotel Hilton, Jakarta, 1999

  7. Hotel Carita Beach, Carita, Jawa Barat, 1999

  8. DC Gallery, Jakarta, 1999, Penyelenggara ASPI

  9. Galeri Nusantara, Jakarta, 1999, Penyelenggara ASPI

  10. Hotel Hilton, Jakarta, 2000

  11. Hotel Cempaka, Jakarta, 2002

  12. Plaza Bapindo, Jakarta, 2002

  13. Plaza Aminta, Jakarta, 2002

  14. Hotel Sari Pacific, Jakarta, 2002

  15. Golf Course, Kemayoran, 2002

  16. V Gallery, Jakarta, 2003

  17. Hotel Crowne, Jakarta, 2004

  18. Galeri Issabrina, Jakarta, 2004

  19. Gedung Sate, Bandung, 2005

  20. Hotel Sultan, Jakarta, 2006

  21. Dandara Gallery, Jakarta, 2007

Penghargaan :

Beberapa penghargaan yang pernah diperoleh diantaranya :

  1. Penghargaan dari Kedutaan Besar Republik Indonesia, Abu Dhabi, United Arab Emirates, 1994

  2. Penghargaan dari Kedutaan Besar Peru dan Unesco, Jakarta, 1995

  3. Penghargaan dari International Professional Award, dari World Achievement Association, Jakarta, 2004

  4. Penghargaan dari Asean Moslem Professional Award, Jakarta, 2004

 

Ferry Djajaprana

August 27, 2007 by ferrydjajaprana

Seperti Air Mengalir Saja

 

Bila tiba-tiba di tengah malam seorang Ferry Djajaprana terbangun dari tidurnya dan mulai menggoreskan kuasnya di atas kanvas, itu berarti selintas ide telah muncul di saat ia terlelap. Sama saja kejadiannya bila di tengah perjalanan ia memutuskan untuk berhenti dan melukis obyek menarik yang ia temui. Bagi Ferry yang terpenting, setiap ada subyek atau obyek yang men-triger pikirannya untuk dapat dilukis, maka saat itu juga harus dilukisnya. Maka tak heranlah dengan pikiran yang selalu terstimulasi untuk selalu berkarya, ferry tetap bisa mempertahankan produktivitasnya dengan menghasilkan lukisan tiap minggunya.

 

Bagi putra ke-empat dari pasangan H. Oetojo Zamzami dan Hj. Afifah Solihin Noer ini, melukis lebih dari sekadar hobi. Mungkin ada juga bakat turunan dari sang ayah yang sebenarnya tidak bergerak di bidang seni. Namun lebih jauh lagi, melukis bagi lelaki kelahiran Tegal, 4 Mei 1965 ini adalah dunia paling menarik baginya.

 

Dengan melukis, aku Ferry, “Apa yang ada dalam benak kita, yang ada dalam pikiran dan jiwa kita semuanya terkonsentrasi, kemudian kita curahkan ke dalam suatu lukisan dalam wujud yang dimasukkan ke dalam kanvas”.

 

Karena itulah kita dapat melihat, pada lukisan-lukisan pria pengagum JF Kennedy ini terdapat goresan-goresan yang merupakan perwakilan atau curahan dirinya. Sehingga di situ kita bisa melihat goresan-goresan yang penuh dengan energi dan inilah yang menarik sehingga luapan-luapan perasaan itu bisa tercurahkan pada lukisan itu.

 

Ferry kecil sebenarnya bercita-cita jadi pilot. Tapi ternyata melukislah yang benar-benar memanggil jiwanya untuk menekuni bidang ini. Semenjak duduk di bangku sekolah dasar, Ferry sudah menyadari bakat melukis yang dimilikinya. Namum menyadari pula keterbatasan keluarganya yang tak mampu memasukkan ke sekolah melukis khusus, iapun belajar secara otodidak dan selebihnya hanya belajar dari sanggar lukis di sekolahnya. Dari situ ia mulai menunjukkan prestasi dengan mewakili SD nya dan menjuarai lomba lukis tingkat kecamatan di daerah Tegal.

 

Melukis tetap ditekuni Ferry sampai ia bersekolah di SMAN I Bekasi. Di sini ia mengelola sanggar Pelangi yang khusus bergerak di bidang seni rupa. Penyayang ikan dan burung ini berusaha menggiatkan sanggar itu dengan mendatangkan beberapa pelukis dan bersama-sama membuat karya. Disinilah ia mulai debutnya dan banyak mengikuti pameran lukisan yang diselenggarakan Pemda Bekasi.

 

Selepas SMA sampai sekarang ia tetap melukis, dan memilih IKJ untuk pendidikan singkat melukis dan masuk Universitas Bina Nusantara dan menekuni pendidikan komputer dengan tujuan jangka panjang agar ia bisa cepat bekerja sehingga dapat mendanai kebutuhannya akan cat lukis impor yang mahal harganya. Nyatanya strategi itu jitu, karena terbukti sampai sekarang pendidikan maupun pekerjaannya dapat memuluskan karirnya sebagai pelukis profesional dan membuatnya mampu mengunjungi berbagai daerah di Indonesia maupun luar negeri.

 

Dari berbagai perjalanannya ke pelosok negeri dan dunia, nasib mempertemukannya dengan Morgan Khoo, seorang pelukis dari Singapura yang meninggal pada tahun 1994. Kemudian pria yang suka makan spaghetty dan mie ini mulai saling berbagi pengalaman dengan Morgan dan sahabatnya inilah menjadi tutor jarak jauh bagi ferry di bidang seni lukis. Pada waktu itu Ferry sedang tinggal di Dubai, United Arab Emirates (UAE) dan kemudian Ferry berhasil menggelar pameran pertamanya di Indonesian Embassy, Abu Dhabi pada tahun 1994.

 

Sepulang lima tahun merantau di UAE, Berikutnya Ferry lalu mengadakan pameran-pameran di World Trade Centre, Jakarta yang diselenggarakan oleh Kedutaan Peru dan UNESCO di tahun 1995, dan selanjutnya kiprah pamerannya sering dilaksanakan di hotel-hotel berbintang di Jakarta. Dengan deretan pengalaman berpameran yang panjang ini, Ferry tetap berhasrat untuk terus mengembangkan lukisannya, terus mencari dan menggali gagasan gagasan dan setelah mendapatkan gagasan itu ia akan terus melukis dan melukis lagi. Ia tak segan untuk mencoba melukis dalam segala macam aliran seperti Impresionisme, Expressionisme dan lainnya. Sehingga lewat pencariannya yang terus menerus itu ia bisa mendapatkan sesuatu yang menyenangkan bagi dirinya. Dengan begitu ia tidak stunned atau berhenti pada satu gaya melukis saja. Karena itulah, ia bertekad mungkin sampai akhir hayatnya ia akan tetap eksis di bidang lukisan dan total mencintai dunia ini sepenuh hati.

 

Kebanyakan lukisan-lukisan pria yang menggemari fotografi ini dan kegiatan kebudayaan ini adalah perjalanan, jadi gambaran-gambaran dari perjalanan dirinya. Seperti itulah juga ia memandang hidup ini dengan berkata:”Bagi saya, hidup ini bagaikan sekadar meneguk segelas air minum dalam perjalanan. Saya memandang hidup ini adalah suatu perjalanan yang harus kita nikmati dan disyukuri…”. Demikianlah, karena baginya hidup adalah perjalanan, maka ia tak pernah berhenti menjalani hidupnya dan menghasilkan karya-karya lukis “seperti air mengalir saja”, terus berjalan dan berpetualang dengan bebas, lepas, tanpa mau terkekang oleh aturan aturan maupun aliran tertentu.

 

Kalau diperhatikan, dominasi atau sekitar 40% lukisan Ferry adalah bergerak di bidang kelautan, pantai atau bahari. Arti pantai bagi Ferry Djajaprana bukan hanya sebagai tempat liburan favoritnya saja. Lebih dari itu, alam terutama laut dan pantai menyimpan sejuta keindahan yang tak pernah habis dieksplorasi. Karena itu ia selalu berpetualang untuk mengabadikan keindahannya dalam lukisan-lukisan cat minyak yang umumnya bertema landscape dan seascape.

 

Sebenarnya Ferry mengaku tak pernah membatasi fokus subyek lukisannya pada tema tertentu saja seperti tema bahari tadi. Ia pun banyak menggarap berbagai tema mulai dari figur, obyek (misalnya : “Stalactite and Stalagmite”, Oil On canvas, 50 x 40 cm), kehidupan sehari-hari, budaya, seni dan pertunjukan, landscape dan seascape (Misalnya : “Abra Creek”, Dubai, 80 x 60 cm, Oil on Canvas, 2001), hingga yang imajinatif dan abstrak (contoh lukisan bisa dilihat di home page : http://www.geocities.com/verri_dj ) yang terpenting bagi penyuka warna merah dan hijau ini adalah “Apapun yang ingin saya lukis, maka akan saya lukis! Karena saya orang yang bebas-bebas saja”.

 

Ciri khas seorang pelukis yang membedakannya dengan pelukis lain menurut Ferry pribadi lebih pada goresan dan teknikalnya. Sedangkan untuk aliran seni lukis dari masa ke masa tak banyak mengalami perubahan sebagai contoh : Impressionism, cubism, Expressionism, dan Abstract. Ciri khas itupun tak selalu menjadi ciri mati seorang pelukis, apalagi bagi Ferry yang menjunjung prinsip kebebasan dalam berkarya. Ferry pun tak segan-segan untuk selalu melakukan perubahan-perubahan dalam lukisannya sehingga seiring bersama dengan berjalannya waktu, tetap ada evaluasinya dalam karya-karyanya.

 

Penggunaan warna dalam lukisan dapat juga dianggap atau salah satu ciri khas seorang pelukis. Ferry sendiri dulunya sering menggunakan warna dominan yang agak keras. Penuh gejolak energi seperti warna merah. Tetapi semakin ke sini, ia semakin meminimalis warna dan semakin sering menggunakan warna monochrome. Jadi kesan yang ditimbulkan tidaklah meriah atau tidak genggap gempita semeriah dulu. Namun, demikianlah yang dinamakan perjalanan, tentu ada perubahan-perubahannya.

 

Warna memang melambangkan perasaan. “Memang banyak sekali lukisan-lukisan saya diperlambangkan dengan warna, biasanya aura-aura itu punya punya pengaruh”, tutur pelukis muda ini. Selain itu Ferry juga sering mendapatkan inspirasi warnanya dari hasil meditasi, akan tetapi lukisan-lukisan dari hasil meditasi ini masih ia simpan dan jarang dipamerkan.

 

Salah satu pengalaman menarik yang ia rasakan tentang penggunaan warna dalam lukisannya adalah ketika ia menggambar perahu-perahu di Indramayu. Ia mengikuti warna perahu sesungguhnya seperti yang tampak saat itu. Warna tersebut sangat menyolok dan boleh jadi dianggap norak untuk kalangan akademisi (contohnya penggabungan warna merah dengan hijau). Ia memilih untuk membiarkan warna lukisannya apa adanya karena itulah record dari perjalanannya di sana. Lagipula ia mengaku dirinya bukanlah dari kalangan akademik yang sangat memperhatikan komposisi warna dan aturan-aturan baku melukis. Ternyata lukisan tersebut menarik perhatian Bapak Radius Prawiro (mantan Menteri Keuangan) yang menurutnya mengingatkan pada saat beliau di sana. Kini lukisannya di koleksi olehnya dan dipajang di ruang kerjanya.

 

Sebagai seorang pelukis profesional yang juga mendapatkan keuntungan dari hasil penjualan lukisannya, Fery menarik minat pembeli - pembeli dari luar negeri dengan banyak berpameran di hotel berbintang. Sedangkan bagi kolektor lukisannya dari Indonesia, pria ini selalu mengundang mereka di setiap pamerannya. Meskipun begitu, tak pernah berusaha mengikuti selera pasar karena baginya lukisannya adalah curahan idenya. Dan dia langsung melukis pada saat ia ingin, tidak tergantung minat atau trend pasar lukisan saat itu. “Saya berfikir lukisanlah yang utama, sedangkan pasar mengikutinya”, begitulah ungkapnya.

 

Menanggapi bermunculannya para pelukis muda dan juga pelukis-pelukis senior yang telah lebih dulu eksis, menurutnya itu adalah cerminan tiap generasi pelukis Indonesia. Mungkin kita mengenal Generasi Basuki – Affandi – Soedjojono, kini perjalanan dunia dilanjutkan oleh generasi penerusnya. Pelukis-pelukis muda itu bagi Ferry adalah ,”suatu proses kelanjutan dari pada generasi sebelumnya. Mereka adalah kawan-kawan kita yang akan merecord perjalanan hidup suatu bangsa atau negara yang mana kita merupakan cikal bakal dan menjadi fondasi sejarah”.

 

Ferry bisa berpendapat begitu karena biasanya orang melukis adalah menggambarkan area wilayah pada saat ia melukis atau pada masanya itu. Sehingga menurutnya kitalah (pelukis) yang mengabadikan kehidupan pada jaman kita masing-masing. Untuk itu sangat penting support dari dan bagi sesama pelukis untuk mengembangkan dunia seni lukis.

 

Pengalaman yang ia dapat selama tinggal di luar negeri membawa pengaruh pada kebebasannya berekspresi. Dari sanalah ia semakin pandai menggarap atau mengeluarkan semua inspirasi dan potensi yang ada dalam dirinya yang sebelumnya tak pernah dibagikan pada rekan-rekannya. Iapun semakin pede dengan kemampuan dirinya.

 

Walaupun begitu tetap saja ia bisa lepas dari kritikan-kritikan para pemirsa lukisannya. Ada saja goresan-goresan lukisannya yang mendapat tanggapan, mulai dari yang manis sampai dengan yang pahit (misal : “Lukisan ini cenderung di tempat !” atau “ada kemajuan dari lukisan ini!”). Bagi Ferry, “Semuanya adalah pelajaran karena saya besar dari mereka, saya selalu menerima dengan terbuka kritikan-kritikan dari kolektor saya ataupun pemirsa lukisan saya (peminat seni)”. Untungnya kritikan-kritikan itu bersifat membangun dan untuk itulah Ferry selalu berusaha menempatkan hal-hal yang baru sehingga tidak membosankan. Dari segi komersial penjualan lukisan Ferry menyarankan perlu adanya manajemen untuk pelukis.

 

Untuk menikmati waktu luangnya, Ferry selalu menyempatkan berlibur di daerah Ciawi – Puncak setiap hari Jum’at, Sabtu dan Minggu. Rupanya di sinipun kegiatannya tak jauh-jauh dari melukis. Di daerah Caringin – Bogor ia juga punya sanggar yang menurutnya sangat menyatu dengan alam. Dengan suasana yang menyejukkan dan minim gangguan itu, inspirasinya semakin terpacu untuk makin baik berkarya. Ferry pun juga pernah aktif sebagai ketua Asosiasi Seniman Pelukis Indonesia (ASPI), paguyuban wadah para pelukis di Jakarta. Tetapi setelah ia pergi ke luar negeri pada tahun 2000 lalu, ia berhenti dari organisasi itu. Sekarang ia lebih bergerak pada pengadaan pameran sendiri atau pameran berdua, ber-tiga atau membuat sendiri kelompok kecil.

 

Harapan Ferry di masa mendatang lukisan-lukisan itu bisa semakin memasyarakat di kalangan menengah ke atas. Malah kalau memungkinkan, masyarakat kelas bawahpun dapat menikmati lukisan karena lukisan adalah hiburan batin. Itulah salah satu cara kita bisa enjoy dan menikmati kehidupan ini.

(Pusat Profil dan Biografi Indonesia, Edisi Tahun Juni 2003).

 

    -o0o-

 

 

Hello world!

August 27, 2007 by ferrydjajaprana

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!