Proses Berkarya :

By ferrydjajaprana

Ferry Djajaprana

Pelukis di Antara Dua Bayangan

 

Semua yang ia uraikan, melalui garis-garis perasaannya. Perpaduan warna mampu mengubah keraguan, untuk selalu memandang pasti. Alamatnya jelas dan tidak lepas. Kemajuannya mampu mengundang daya pandang. Dari sebuah ketajaman yang memperjelas rupa, serta pengalaman ujud terhadap kuatnya jati diri.

 

Diatas kanvas terbaca makna, yang jauh dari praduga dan prasangka. Tidak menjilat kepada kekuasaan, karena mau mengabdi pada hati nurani. Demi mensyukuri nikmat Illahi Robbi.

 

Ferry Djajaprana, merupakan sebuah nama yang selalu menyatu dengan seluruh karya-karyanya. Dari jejak-jejak masa kini, ia mencoba merajut sejarah. Detail demi detail ia ungkapkan berbagai peristiwa melalui kanvas dan kuasnya.

 

Karya lukisan dalam menjamah setiap objek, sangat aspiratif dan apa adanya. Kejeliannya dalam menempatkan setiap warna, selalu selaras dan harmonis. Daerah pesisir, budaya tradisional, peradaban klasik dan suku pedalaman, menjadi pilihannya, untuk diperkenalkan kepada dunia luar yang modern.

 

Berjambat niat, mengikuti kemauan hati, ia keluar dari pintu rumahnya, dan ia kembali tak pernah pasti. Ia juga tak pernah menghitung jarak, dalam menuruti kemauan. Perjalanan panjang dalam mengukir karier, agar menjadikan pengalaman lebih arif dan bijak.

 

Jawa, Madura, Bali Sumatera, kalimantan, serta negara tetangga Malaysia dan Singapura, telah disinggahi. Bahkan sampai ke negara kawasan Teluk. Diantaranya Oman, Qatar, Iran, Saudi Arabia dan Uni Emirat Arab (UAE). Tidak kurang dari 200 buah karya lukisannya, ia garap sejak April 1997 sampai April 2005

 

Dari lukisan-lukisannya, ada yang ia beri judul “Ms Khadik and her Batik”, berukuran 140 x 90 cm, “Fish Market” berukuran 130 x 70 cm, semuanya menggunakan cat minyak. Seluruh karyanya disuguhkan kepada para kolektor dan para pecinta seni.

 

Ferry Djajaprana adalah laki-laki muda yang sedang terbias semangat mengantar bakat. “Saya di Banten ini tidak kesasar, saya sengaja datang, ke mana langkah kaki sampai ke situ tujuannya. Saya mendengar berbagai misteri, cerita tentang Banten. Dari alam lingkungan sampai gerak usik kehidupan masyarakatnya. Saya tertarik ungkapan itu, dan saya perlu membuktikan,” ungkapnya kepada Fajar Banten, sambil terus sibuk di atas kanvasnya.

 

Ternyata itu benar semuanya, saya kagum dan terkesan akan panorama alam banten. Termasuk kehidupan masyarakatnya yang ramah. Budaya dan seninya, serta suku pedalaman yang benar-benar klasik. Saya akan menyediakan waktu lama, buat menjelajahi daerah Anda.” Ungkapnya dalam bincang-bincang dengan Fajar Banten.

 

Itulah mungkin yang menjadi kebiasaan seorang pelukis. Bincang-bincangnya dengan tamu yang baru dikenal, hanya disambil saja. Ia hanya serius kepada kanvas dihadapannya, menghadap ke laut lepas. Memang sekali-kali menoleh, sambil menyolokkan ujung kuas ke warna yang dipilihnya. Kemudian serius kembali.

 

Saat itu yang sedang menjadi sasaran, obyeknya adalah Pantai Tanjung Lesung yang merupakan bagian terakhir dari dari seluruh perjalananya yang hampir sebulan di daerah Banten Selatan. Kendaraan pribadinya yang diparkir penuh kanvas lukisan, yang dipersiapkan buat perekaman objeknya.

 

Diantaranya yang masih berupa sketsa dan ada beberapa lukisan yang sudah jadi. Kehidupan nelayan Muara Cibareno, Panorama Karang Taraje, Pantai Ciara Bagedur, Kesibukan Nelayan Binuangeun dan suku pedalaman yang sedang menenun (Lebak).

 

Sedang yang termasuk Kabupaten Pandeglang, Pantai Tanjung Lesung, Pantai Carita dan Gunung Krakataunya, termasuk hamparan hijau persawahan di kaki Gunung Karang. “Mudah-mudahan dari hasil kerja saya 15 buah lukisan di Banten, membuat saya masih penasaran. Dan saya harus kembali lagi ke Banten untuk menuntaskan,” katanya.

“Bung Ferry, lukisan-lukisan yang anda buat ini, kemudian begitu banyak anda kumpulkan, apa saja themanya?” Fajar Banten mencoba bertanya untuk lebih jauh lagi melihat visi dan misinya.

 

Banyak thema lukisannya yang dibuat diantaranya ada Abstract, Figure, Object, Scene, seascape, Landscape ada juga yang imagination, termasuk daily life. Yang terlihat paling menonjol dari yang ditunjukkan kepada Fajar Banten adalah thema imagination, lukisannya berjudul “The Flying Lady”. Di sini jelas-jelas bung Ferry Djajaprana, daya jangkau imajinasi mampu menjamah kelembutan gerak. Dari setiap inspirasi, untuk dituangkan ke dalam kanvasnya, tanpa memperdulikan dirinya yang setiap detik digerogoti waktu. Bisalah dikatakan bahwa bakat lebih kuat dalam mengantarkan kesuksesannya ke jenjang yang diinginkan (Djoewisno MS/”FB”)

 

-o0o-

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Ferry Djajaprana

Daftar Pameran

Selain Pameran Tunggal di Galeri Palembang, Jakarta , yang dilaksanakan pada tahun 2005, Pameran Bersama yang pernah diikuti sebelumnya diantaranya adalah: :

1) Indonesian Embassy, Abu Dhabi, 1994

  1. World Trade Centre, Jakarta, 1995, Penyelenggara Kedutaan Peru & UNESCO

  2. Mal Mangga Dua, Jakarta, 1996,Penyelenggara Kelompok 100 pelukis Indonesia

  3. Gedung Pusat Niaga, PRJ, Jakarta,1996, Penyelenggara Kelompok 100 Pelukis Indonesia

  4. Mal Daan Mogot, Jakarta, 1997, Penyelenggara Kelompok 100 Pelukis Indonesia

  5. Gedung Departemen Pariwisata Seni dan Budaya, Jakarta, 1998, Penyelenggara

Asosiasi Seniman Pelukis Indonesia (ASPI)

  1. DC Gallery, Jakarta, 1998, Penyelenggara ASPI

  2. Ohlala Café, Mal Pondok Indah, Jakarta, 1998

  3. Ohlala Café, Mal Plaza Indonesia, Jakarta, 1998

  4. Hotel Lembah Hijau, Ciloto, Jawa Barat, 1998

  5. Hotel Carita Beach, Carita, Jawa Barat, 1998

  6. Hotel Hilton, Jakarta, 1999

  7. Hotel Carita Beach, Carita, Jawa Barat, 1999

  8. DC Gallery, Jakarta, 1999, Penyelenggara ASPI

  9. Galeri Nusantara, Jakarta, 1999, Penyelenggara ASPI

  10. Hotel Hilton, Jakarta, 2000

  11. Hotel Cempaka, Jakarta, 2002

  12. Plaza Bapindo, Jakarta, 2002

  13. Plaza Aminta, Jakarta, 2002

  14. Hotel Sari Pacific, Jakarta, 2002

  15. Golf Course, Kemayoran, 2002

  16. V Gallery, Jakarta, 2003

  17. Hotel Crowne, Jakarta, 2004

  18. Galeri Issabrina, Jakarta, 2004

  19. Gedung Sate, Bandung, 2005

  20. Hotel Sultan, Jakarta, 2006

  21. Dandara Gallery, Jakarta, 2007

Penghargaan :

Beberapa penghargaan yang pernah diperoleh diantaranya :

  1. Penghargaan dari Kedutaan Besar Republik Indonesia, Abu Dhabi, United Arab Emirates, 1994

  2. Penghargaan dari Kedutaan Besar Peru dan Unesco, Jakarta, 1995

  3. Penghargaan dari International Professional Award, dari World Achievement Association, Jakarta, 2004

  4. Penghargaan dari Asean Moslem Professional Award, Jakarta, 2004

 

Leave a Reply